Hutan sangat penting bagi kehidupan di muka bumi. Di antara semua ekosistem, hutan adalah ekosistem terkaya – meliputi hanya delapan persen dari permukaan planet ini dan merupakan rumah bagi dua pertiga spesies tumbuhan dan hewan darat. Jutaan orang bergantung secara langsung pada hutan untuk keperluan makanan, air, obat-obatan dan bahan-bahan dasar lainnya.
Bagi mereka, hutan mencerminkan budaya dan cara hidup. Di negara-negara berkembang, satu milyar penduduk dunia termiskin menggantungkan sebagian penghidupan mereka pada hutan, dan 350 juta penduduk yang hidup di pinggiran hutan menggantungkan penghidupan dan keselamatan mereka pada hutan.
Hutan juga penting sebagai pengatur iklim global dan pola-pola cuaca, yang merupakan sistem-sistem penting dari lingkungan hidup yang mendukung kehidupan di atas Bumi. Banyak dari hutan alam dunia telah rusak parah atau bahkan hilang sama sekali. Manusia menghancurkan hutan dengan kecepatan luar biasa. Wilayah seukuran lapangan bola ditebang habis tiap dua detiknya. Separuh wilayah hutan yang hilang dalam 10.000 tahun terakhir punah kurang dari 80 tahun yang lalu. Sebagian besar pengrusakan hutan ini terjadi dalam 30 tahun terakhir.
Hal ini mengakibatkan penyusutan dan kepunahan keanekaragaman hayati terbesar di atas bumi dan dengan demikian menghancurkan kehidupan jutaan orang yang bergantung pada hutan. Kecepatan kepunahan spesies tumbuhan dan hewan kurang lebih seribu kali lebih cepat dari masa sebelum keberadaan manusia. Para ahli mengatakan bahwa Bumi sedang berada pada tahap kepunahan besar keenam6 dan laju kepunahan akan meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2007.
Hutan dan Perubahan Iklim
Sekitar seperlima dari emisi gas rumahkaca global diakibatkan oleh deforestasi, terutama dari hutan tropis. Ini tidak termasuk emisi yang disebabkan oleh kerusakan hutan dari kegiatan industri seperti penebangan hutan, baik legal maupun ilegal.
Hutan dan tanahnya adalah penyimpan karbon yang besar – lebih dari ekosistem daratan lainnya. Merujuk penelitian FAO, hutan menyimpan sekitar tiga ratus milyar ton atau setara dengan 40 kali jumlah yang saat ini dilepas ke atmosfir setiap tahun dari pembakaran bahanbakar fosil dan produksi semen.
Menurut perkiraan terakhir, Indonesia adalah pengemisi ketiga terbesar gas rumahkaca dunia setelah Cina dan Amerika Serikat. Tingkat emisi tinggi Indonesia adalah konsekuensi dari sangat tingginya laju penggundulan hutan – yang mencapai hampir 2 juta hektar per tahun – terutama pengrusakan hutan-hutan gambut yang kaya karbon.
Diperkirakan dua milyar ton karbondioksida (CO2) dilepas ke udara hanya dari pengeringan dan pembakaran hutan gambut di Asia Tenggara. Jumlah ini setara dengan delapan persen emisi global dari penggunaan bahanbakar fosil. Sembilanpuluh persen emisi CO2 dari hutan gambut di Asia Tenggara berasal dari Indonesia.
Hutan Alam : Pendingin Iklim
Hutan alam memainkan peran penting dalam pengaturan iklim dunia dan pola cuaca global, sistem lingkungan kritis yang mendukung kehidupan di muka bumi. Saat ini, hanya 20 persen dari hutan alam asli dunia tersisa dalam wilayah yang luas dan utuh (intact forest landscape).
Fragmentasi hutan akibat industri penebangan, merusak hutan alam dan meningkatkan kerentanannya terhadap musim kemarau dan kebakaran – yang diperkirakan meningkat di hutan tropis sebagai akibat perubahan iklim. Hal ini mengakibatkan rantai sebab akibat tak berujung dimana hutan terdegradasi menjadikannya makin rentan terhadap kebakaran hutan, yang dengan demikian melepas gas rumahkaca lebih banyak dan mendorong percepatan perubahan iklim, sehingga mengakibatkan kebakaran hutan dan meningkatnya fragmentasi.
Mencegah perubahan iklim agar tidak mencapai tingkat berbahaya artinya menjaga sebisa mungkin agar kenaikan temperatur global rata-rata di bawah 2 derajat Celsius dibandingkan dengan tingkat pra-industri. Untuk mencapai ini dibutuhkan tindakan darurat untuk menurunkan emisi gas rumahkaca dari dua sumber terbesar secara drastis: pembakaran bahanbakar fosil untuk keperluan energi dan deforestasi. Kedua sumber ini masing-masing menyumbang duapertiga dan seperlima dari jumlah emisi yang dilepas ke udara.
Greenpeace mengusung revolusi energi dan menyerukan negara-negara dunia untuk berinvestasi dalam energi terbaharui dan meningkatkan efisiensi energi. Greenpeace juga meminta keseriusan dan kesungguhan untuk menghentikan pengrusakan hutan dunia dan meminta target ini disahkan dalam kesepakatan internasional, yang mengikat bagi negara.