Bagaimana para pencinta burung ini menikmati burung-burung mereka? Suara kicauan merupakan parameter yang utama, kemudian baru warna bulu, perilaku dan beberapa aspek lainnya yang berhubungan dengan kenyamanan dan kemudahan pemeliharaan. Bahkan burung-burung tersebut diajari berkicau, berbicara, tertawa ataupun menirukan banyak sekali suara yang semuanya melahirkan keajaiban dan keheranan yang amat sangat tentang bagaimana hebatnya Sang Maha Pencipta. Mereka terkadang juga dilombakan, seperti layaknya paduan suara atau olah vokal lainnya. Begitulah cara menikmati burung, selama ini. Tulisan ini ingin mengajak kepada siapa saja yang kebetulan membacanya untuk menikmati burung dengan cara yang lain. Menikmati burung di alam bebas (Bird watching) adalah cara atau teknik menikmati kehadiran jenis burung yang lebih alami dan ramah lingkungan.
Pekerjaan mengamati burung adalah sesuatu yang mengasyikan. Apalagi jika dapat bertemu dengan banyak spesies yang termasuk langka, sehingga mengundang rasa ingin tahu si pengamat yang sangat besar untuk mengamati lebih jauh. Untuk itulah diperlukan bantuan beberapa peralatan dalam pengamatan, berupa teropong sederhana dan sebuah buku untuk identifikasi. Tanpa menggunakan teropong, biasanya pengamatan akan berakhir dengan kelelahan yang tidak menggembirakan, dikarenakan si pengamat tidak dapat berhasil mengidentifikasi jenis yang teramati tersebut. Seringkali banyak jenis burung adalah berukuran kecil dan mungil, sehingga dengan mata biasa pada jarak yang cukup jauh adalah sangat tidak mungkin untuk mengenalinya. Bantuan teropong besar dengan statip (kaki tiga) akan sangat menggembirakan si pengamat, karena dengan perbesaran yang cukup akan dapat mengamati jenis-jenis burung dari jarak yang cukup jauh.
Bagaimana agar tidak bosan? Diperlukan suatu motivasi yang besar untuk menguasai ilmu pengenalan jenis burung ini. Perlu dikembangkan sifat sabar, tekun dan teliti serta bekerja dalam kondisi yang prima dan sistimatis. Kesabaran seorang pengamat burung sebagai contoh adalah burung yang dia lihat pada hari ini, baru mungkin dapat dia identifikasi setelah beberapa hari berikutnya atau bahkan beberapa minggu atau bulan berikutnya. Pengamat burung selalu mencatat apa yang dilihatnya, dan secara otomatis mengembangkan memorynya untuk selalu melihat kepada catatan-catatan lama, tentang bagaimana ciri-ciri burung yang pernah dia amati di masa yang sudah lewat. Seorang pengamat burung selalu dilengkapi dengan sebuah catatan kecil di dalam sakunya untuk mencatat semua keperluan identifikasi dalam waktu yang panjang tersebut. Sifat lain yang perlu dikembangkan adalah bekerja secara sistimatis, yaitu mencoba mengenali jenis berdasarkan ciri-ciri yang umum terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ciri-ciri yang lebih khusus. Hal ini diperlukan untuk memudahkan dalam mencari jenis burung yang terlihat di dalam buku penuntun yang di bawa. Banyak-banyak mengamati terlebih dahulu adalah akan sangat menguntungkan si pengamat, daripada sebentar-sebentar melihat buku penuntun, sehingga banyak waktu yang terbuang padahal pertemuan dengan burung-burung adalah sangat pendek waktunya. Identifikasi menjadi sulit dilapangan, lebih disebabkan karena kondisi lapangan, kerapatan vegetasi dan pencahayaaan yang tidak cukup, sehingga banyak menghalangi pengamat untuk melihat dengan jelas bentuk dan rupa serta kombinasi warna bulu burung yang ada. Jenis-jenis yang sulit dibedakan, walau diidentifikasi dari dekat (dengan penangkapan) adalah tidak terlalu banyak, dan ini biasanya dapat dibedakan dari suara ataupun perilakunya. Cara lain yang lebih mudah adalah mengamati burung dengan seorang yang telah kenal banyak jenis, sehingga sipengamat pemula tidak perlu bersusah payah membuka buku penuntun penganalan jenis setiap kali bertemu dengan jenis baru.
Rekreasi alam dirasakan sekarang ini sebagai suatu kebutuhan yang mendasar bagi banyak orang. Perkembangan kehidupan, kesejahteraan dan wawasan manusia telah mengantarkan mereka kepada suatu kesimpulan, bahwa alam adalah tempat yang paling indah yang dapat memberikan kesegaran, kebugaran dan kesehatan jasmani dan rohani bagi umat manusia. Alam juga dipercaya memiliki banyak potensi yang dapat mencengangkan manusia, baik secara abiotis maupun biologisnya. Rekreasi alam biasanya dilakukan untuk menikmati indahnya pemandangan alam, sungai yang berlikuk, lautan dan matahari yang terik menyengat, hijaunya hutan alam, ataupun tingginya puncak gunung dan lain sebagainya. Rekreasi alam dapat dipadukan dengan kegiatan pendidikan lingkungan baik bagi para pelajar maupun masyarakat umum. Paket-paket wisata lingkungan dapat dikemas sedemikian rupa, sehingga bersifat efisien dan aman dalam pelaksanaannya. Paket-paket ini dapat ditawarkan kepada banyak sekolah ataupun perkumpulan dan sekaligus dapat mendorong animo menabung dari masyarakat, agar dapat menikmati perjalanan wisata pada suatu hari nanti. Kondisi yang sekarang ini memperlihatkan bahwa banyak orang tidak tahu, kemana dia akan pergi pada saat liburan tiba. Atau sebaliknya, mereka ingin berpergian ke satu atau beberapa tempat sekaligus, namun tidak tersedia cukup informasi yang dapat mendukung pelaksanaannya. Hal-hal seperti itu perlu dikembangkan, agar potensi permintaan akan wisata ataupun rekreasi alam dapat terlihat dengan sebenarnya. Penawaran harus dilakukan oleh pihak yang berkompeten, melalui banyak penyuluhan dan memberikan informasi, dengan kata lain tidak membiarkan begitu saja penawaran dilakukan oleh alam, tanpa melakukan pengelolaan. Dalam kegiatan rekreasi alam, upaya pengenalan jenis burung dapat dilakukan dengan santai sebagai bekal pendidikan kecinta-alaman. Hal ini akan menumbuhkan kelompok-kelompok pencinta burung ataupun satwaliar lainnya yang berorientasi kepada lingkungan dan pelestarian habitat satwa secara umum.
Kegiatan rekreasi alam dalam hubungannya dengan pengamatan burung adalah masih sangat jarang dilakukan orang. Kalaupun pernah, baru bersifat perorangan, untuk kegiatan penelitian, dan belum terorganisir dengan baik. Tidak banyak kelompok-kelompok pemuda yang berusaha melakukan kegiatan seperti ini, padahal hobby mengamati burung di alam bebas adalah salah satu kebutuhan manusia dan sangat bermanfaat dalam menunjang kegiatan konservasi pada umumnya. Pengembangan hobby mengamati burung di alam bebas akan memberikan solusi kepada permasalahan sedikitnya pengenal jenis satwaliar selama ini. Pengenalan jenis adalah masalah mendasar sejak lama dalam suatu kegiatan inventarisasi sumberdaya alam. Jumlah pengenal jenis vegetasi saja hingga saat ini masih sangat terbatas jumlahnya, padahal hampir sejak 25 tahun kita mengelola hutan tropis kita. Lalu bagaimana dengan pengenal jenis binatang? atau burung? Tentu jumlahnya akan lebih sedikit lagi, kalau kita tidak mau mengatakan belum ada sama sekali. Sejak lama pula kita selalu berteriak tentang konservasi sumberdaya hutan, tapi sejak itu pula kita hampir tidak pernah peduli siapa saja para penghuni hutan tersebut.
Di Indonesia dapat ditemukan lebih dari 900 jenis burung yang menyebar di seluruh wilayah, dari daerah pantai sampai jauh ke dalam hutan alam tropis. Potensi keanekaragaman jenis burung adalah tinggi pada setiap tipe habitat yang ada. Daerah pantai menyediakan keragaman burung-burung air yang keindahannya dapat dinikmati melalui pengamatan dengan bantuan teropong yang sederhana. Begitu juga pada banyak daerah perairan lainnya seperti di sepanjang sungai, danau dan sebagainya. Terus ke darat ke dalam hutan, dari mulai hutan mangrove, rawa, rawa bergambut, hutan hujan dataran rendah dengan tingkat keanekaragaman yang semakin tinggi. Setiap tipe habitat memiliki keanekaragaman yang khas yang berbeda dengan tipe habitat lainnya. Burung adalah kelompok binatang yang sangat dekat dengan kondisi lingkungannya, bahkan dapat dikatakan kondisi lingkungan dapat tercermin dari jenis burung penghuninya. Itulah sebabnya banyak jenis burung dapat dijadikan petunjuk (bioindikator) bagi adanya perubahan lingkungan, selain juga dikarenakan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.






















0 comments:
Post a Comment